" SELAMAT DATANG SANOK-SANOK "

Rabu, 08 Juli 2009

ANAK TALANG


Mungkin anda pernah mengunjungi SMP N 5 SEMELAKO, kira-kira pada tahun 1998-2001 saat pertama sekolah ini dibuka, yang sekarang namaya berubah menjadi SMP N 2 Lebong Tengah setelah lebong menjadi kabupaten pemekaran yang dulunya berinduk ke kabupaten Rejang Lebong, maka anda takkan terlalu asing dengan wajah-wajah yang ada di potoh karena mereka dulunya adalah murid-murid angkatan pertama sekolah ini. Mungkin Anda juga pernah mengunjungi Desa Talang Sakti? Sebuah desa yang berada di lereng gunung (tebo lai ngen tebo ceme), desa yang penuh dengan kekayaan alamnya, hutan, sawah, sungai dan keindahan lainnya.
Saat ini aku tidak berada di desa itu, aku adalah salah satu dari sekian banyak "tunjang neak ratau", dan aku takkan pernah melupakan desa itu, suatu saat nanti aku pasti kembali.. pasti kembali..!!! Aku ingat waktu aku kecil masih ingusan di desa itu, saat itu keadaan desa begitu asri, listrik sih sudah masuk, rumah-rumah masih sedikitlah, banyak semak belukar tempat kami sering bermain membuat goa-goa 'seperti hal suku anak dalam' digoa-goa itu kami melakukan aktifitas sekaligus bermain-main dari acara masak-masak, bermain kerajaan 'goa itu istananya heee.. heee...' bahkan pr sekolah pun sering kami kerjakan disana. Air nga ai(beyoa neai), takkan asing lagi bagi orang di propinsi Bengkulu, air nga ai(biyoa neai) ini terletak di desa Desa Talang Sakti, tempat aku dilahirkan di Bumi Rafflessia, kami sering mandi di sungai ini, tiap hari malah sehabis pulang sekolah "waktu SD", biasanya kegiatan kami, mandi sambil belajar renang, kadang juga bermain "acit ulau" sampai mata kami merah.. haaa... haaa.....!! Kalau sudah merah begitu kami akan mengambil daun semak dan meletakkannya menutup mata kami sambil melihat ke atas dan bernyanyi......
" Matai ku ijo...
Matai ku ijo....
Matai ku ijo..... "
Walaupun lagu ini sampai sekarang aku juga kurang tahu siapa pencipta, tapi saat itu lagu ini lagi mboming di kalangan anak-anak talang seperti kami. Kalau malam tiba, sehabis magriblah maka kami anak-anak talang ini akan berkumpul di lapangan depan rumah kami, kegiatan kami bermain-main, dari main petak umpet, kokok ayam(memonok), bahkan sampai main pertarungan (stajang keikut, belago), tetakep, pokoknya banyak deee......!!!
Tapi setelah kami beranjak remaja, hampir tamat smp lah. Permainan seperti itu jarang sekali ditemukan lagi, kebanyakan sering main game boat, ps, apalagi perkembangan desa sudah semakin maju. Semak belukar, kolam, kini berubah jadi purumahan, segalah perubahan itu sih pasti selalu ada segi positif dan negatif, tapi kita harus terus bersyukur. Atas semua yang telah diberikan kepada kita.

2 komentar:

  1. tingget te.. neak sadei.. die..

    BalasHapus
  2. ceritamu sangat indah, mengingatkan aku tentang masa kecil. Alangkah bagusnya bila sanak bisa menulis tentang cara dan bagaimana bermian tradisional orang rejang di desa dahulu, untuk catatan dokumentasi budaya anak anak rejang yang akan hilang di tahun tahun ke depan.

    dang

    BalasHapus